readbud - get paid to read and rate articles

Selasa, 10 Februari 2009

Kompetisi Robot Nasional di UI

Robot dari tim KHIL-G (merah) dari Universitas Brawijaya, Malang, berhadapan dengan robot tim AMBIN (biru) dari Politeknik Manufaktur Timah-UBB memperebutkan kotak kuning (yellow butter) pada arena Kontes Robot Indonesia di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Minggu (15/6).


JAKARTA, SABTU — Dies Natalis Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Sabtu (7/2), dimeriahkan kompetisi robot tingkat nasional. Selain itu juga digelar kompetisi pembuatan software untuk siswa SMP dan SMA, pameran produk riset UI dan talkshow Broadband Internet for Better Education dan Indonesia Goes e-learning, bertempat di Balairung UI, Depok.

Deputy Director Corporate Communications UI Devie Rahmawati mengatakan, kompetisi bertaraf nasional ini memberikan kesempatan kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk dapat menikmati keunggulan teknologi melalui robot LEGO Mindstorms NXT.

NXT merupakan penyempurnaan dari robot lego seri RIS (Robotic Invention System) yang telah sukses di pasaran. "Seri NXT merupakan seri robot yang lebih ramah dan relatif mudah untuk digunakan tanpa harus merekayasa sirkuit maupun memasang motor sendiri seperti generasi pendahulunya," katanya.

Penyelenggaraan yang diprakarsai oleh Lab Computational Intelligence divisi Robotic Research, Fasilkom UI, ini bertujuan agar terdifusinya teknologi robot kepada kalangan masyarakat yang lebih luas serta memberikan kesempatan bagi peserta untuk melatih logika sekaligus menyelesaikan masalah (problem solving).

Peserta selama dua hari sebelum penyelenggaraan kompetisi memperoleh pembekalan mengenai Mindstorms NXT dan mekanisme kompetisi. Kompetisi menampilkan 12 tim yang terdiri dari 3 orang, dari 400 pendaftar, untuk dapat menyelesaikan soal yang diberikan dengan menggunakan robot. Tugas yang harus diselesaikan oleh masing-masing tim di antaranya pencapaian posisi target yang memiliki nilai.

Menurut Devie, Universitas Indonesia menyadari penuh akan arti pentingnya pengembangan teknologi berbasis robot. Hal ini dibuktikan dengan konsistensi penyelenggaraan kompetisi (UI yang mempelopori Kontes Robot Cerdas Indonesia) dan serangkaian program pengembangan aplikasi robot.

"Robot" yang berasal dari bahasa Chech (Ceska), yang berarti pekerja ini, telah banyak dimanfaatkan oleh industri-industri dunia dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas berbagai aktivitas kerja manusia. Berbagai manfaat, seperti mengurangi faktor human error dan produksi berbagai produk massal, merupakan sebagian kecil dari pemanfaatan robot dewasa ini.

Kompetisi ini dilaksanakan dengan harapan agar aplikasi teknologi robot semakin dekat di tengah masyarakat. Lab Computational Intelligence divisi Robotic Research juga fokus terhadap perkembangan publikasi riset dan jurnal ilmiah.

Lab yang diketuai oleh Dr Wisnu Jatmiko, M Eng, ini dalam perjalanannya telah menghasilkan 24 jurnal ilmiah internasional, 20 jurnal ilmiah nasional, serta berpartisipasi, baik dalam berbagai konferensi nasional, maupun internasional.

Dalam upaya mensyiarkan perkembangan robot, lab ini tengah mempersiapkan 4 buku acuan mengenai dunia robot yang dua di antaranya akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. "Ini menunjukkan bahwa daya serap terhadap teknologi tinggi tidak hanya menjadi monopoli negara-negara maju,

Bila Kotak Nasi Disulap Jadi Robot

Bagi anak-anak kecil, wadah kotak nasi biasanya menjadi tempat bekal sarapan yang disiapkan oelh ibu saat berangkat mereka ke TK atau ke sekolah. Karena ukuran kotak yang begitu kecil sehingga mudah dijinjing dan dimasukkan ke dalam tas oleh anak-anak. Namun bagi mahasiswa elektro UGM, Wahyu Hidayat (21), ternyata dari sebuah kotak nasi ini bisa dijadikan sebuah prototipe robot. Nama robotnya pun terbilang unik, mungkin karena terbuat dari sebuah kotak nasi, sehingga ia namakan robot ‘lapar’.

Begitu ‘lapar’nya, sang robot pun tidak ubahnya seperti seekor macan yang kelaparan dan terus mengejar mangsanya. Jangan heran, robot mini yang berukuran 11 X 15 cm ini berhasil menyisihkan 80 robot pesaingnya beberapa waktu lalu dalam ajang kontes robot LTRC (Line Tracking Robot Competition) Se-Jawa dan Bali beberapa waktu lalu.

“Cukup dengan memberikan garis warna putih atau hitam pada lintasannya, maka robot ini akan berjalan terus mengikuti garis,” kata Wahyu Hidayat saat bincang-bincang dengan wartawan di Ruang Fortakgama, Selasa (26/2) di Kampus UGM.

Menurut pria kelahiran Kebumen 1988 ini, dalam kompetisi tersebut robotnya berhasil menjadi robot tercepat dalam melalui lintasan sepanjang 5,5 meter yang dibuat melingkar.

“Robot kita tercepat dan mampu melewati lintasan dengan waktu 18 detik untuk melewati lintasan, dengan kecepatan 0,75 cm per detik,” tutur wahyu.

Wahyu menjelaskan, setidaknya dirinya memerlukan waktu satu bulan untuk mendisain robot ciptaannya dengan menghabiskan biaya sekitar 250 ribu rupiah guna membeli berbagai macam peralatan dan rangkaian komponen robot. Meskipun demikian, setelah menjadi juara, Wahyu berhak memetik hasil jerih payahnya dengan mendapat piagam penghargaan, tropy Gubernur DIY dan uang pembinaan sebesar 600 ribu rupiah.

Dikatakan mahasiswa elektro angkatan 2004 ini, robot lapar buatannya ini akan diikutkan dalam kejuaraan kontes Galelobot (Ganesha Line Robot Competition) yang berlangsung pada bulan April mendatang di Kampus ITB, Bandung.

“Rencananya dalam kontes robot line follower nanti, kita akan melakukan up grade pada kompetisi karena tantangannya akan lebih sulit lagi,” paparnya.

Robot lapar ini, kata Wahyu, memiliki komponen berupa rangkaian pengendali, rangkaian monitor (LCD) dan rangkaian sensor. Beberapa komponen ini akan ditambahkan lagi rangkaian lainnya untuk menjadi juara dalam kontes robot line-follower.

Dijelaskan Wahyu, prototipe robot ini nantinya bisa dikembangkan dalam dunia industri sebgai robot pengangkut barang.

“Robot ini bisa dikembangkan untuk mengangkut barang di dunia industri dengan membuat lintasan,”terangnya.

Sumber : www.ugm.ac.id - Humas UGM/Gusti Grehenson

Minggu, 08 Februari 2009

Membuat Robot SMS Cuma Butuh Biaya 100 Ribu

suarasurabaya.net| Cukup mengeluarkan dana seratus ribu rupiah saja, sebuah robot yang digerakkan melalui Short Message Service (SMS), dikatakan IHYAUDIN, dapat dibuat. Jumat (29/02) itu dipraktekkan dalam workshop yang digelar STIKOM Surabaya.

Tentunya dana seratus ribu itu tidak termasuk Handphone yang digunakan sebagai alat pengontrol. “Seluruh komponen kita bisa beli dan dapatkan di Pasar Genteng. Total seluruhnya sekitar Rp 100 ribu. Harga itu tidak termasuk HP. Khusus komponennya saja,” tutur IHYAUDIN Asisten Pengajar Laboratorium Prodi Sistem Komputer STIKOM Surabaya.

Jumat (29/02) dalam kesempatan mengikuti IT Education Expo di Hi Tech Mall, Surabaya, STIKOM Surabaya menghadirkan seminar dan workshop secara gratis bagi masyarakat umum. Dan dalam satu diantaraagenda workshop yang digelar adalah membuat robot sederhana dengan alat pengontrol HP.

“Sebenarnya, untuk membuat robot SMS ini minimum terdapat system mikrokontroler dengan kemampuan komunikasi serial RS232, Handphone yang dapat terhubung melalui komunikasi serial RS 232, komponen pengendali motor DC, dan motor DC sebagai penggerak,” ternag AIK sapaan IHYAUDIN.

Robot akan bergerak apabila ada perintah dari SMS yang dikirimkan melalui HP yang dipasang dalam robot. Robot bergerak sesuai perintah yang sudah ada didalam program. Format program yang dipakai untuk robot disesuaikan dengan kebutuhan.

“Jika ingin membuat lebih dari sekedar bergerak kekanan kekiri atau maju mundur saja, hal itu bergantung pada memori yang digunakan didalam hanphone. Semakin banyak memori yang dipakai maka semakin kompleks juga fungsi robot tersebut,” tukas AIK saat ditemui suarasurabaya.net.

DIAN LAILA SARI staf Humas STIKOM Surabaya membenarkan, Jumat (29/02) selain seminar tentang pendidikan juga dihadirkan workshop secara cuma-cuma degan tema membuat robot sederhana. “Kita ingin mengajak masyarakat untuk mengetahui bahwa IT bisa dipelajari bahkan untuk sebuah robot juga ada yang sederhana,” papar DIAN LAILA SARI.(tok)

Teks foto:
-Robot sederhana juga bisa dipelajari. hanya 100 ribu.
Foto: TOTOK suarasurabaya.net